Fenomena
Kenakalan Remaja
Oleh
: Ruli Khoiriyah Nurhasanah
Pendahuluan
Di
era yang serba modern ini, memudahkan masyarakat dalam memperoleh berbagai
macam informasi baik dari media cetak maupun media elektronik. Kemudahan akses
yang didapatkan oleh anak remaja masa kini, memberika dampak positif dan juga
dampak negative dalam pergaulannya sehari-hari.
Semakin terbuka luasnya ruang untuk berkomunikasi jarak jauh seperti
dengan menggunakan Handphone,
Internet dan lain-lain, tidak jarang dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk
hal-hal yang tidak baik. Contohnya saja penculikan remaja-remaja putri oleh temannya yang ia kenal melalui jejaring
social Facebook, Twitter, dan lain
sebagainya. Mereka yang belum mengehatui ataupun belum paham bahwa kejahatan
selalu mengintai dan berada disekeliling mereka, tidak merasa khawatir ataupun
curiga terhadap orang yang baru ia kenal. Sifat anak remaja yang selalu ingin
tahu dan selalu ingin mencoba hal yang baru juga lah yang menjadi salah satu
penyebab munculnya kejahatan-kejahatan terhadap remaja. Memang, rasa ingin tahu
merupakan sifat dasar dari setiap manusia. Seperti yang dikenal remaja masa
kini dengan istilah KEPO (Knowing Every
Particular Object).
Dampak
positif dari perkembangan teknologi dan informasi bagi kalangan remaja adalah
sebagai sarana yang dapat mempermudah mengakses informasi yang kita perlukan, mempercepat
penyampaian informasi (via email),
mempermudah untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugas, mempermudah
komunikasi dan tidak harus memikirkan halangan waktu dan tempat, dan masih
banyak lagi kegunaan lainnya. Namun, apabila ada dampak positif pasti juga
memiliki dampak negative. Dampak negative dari perkembangan teknologi dan
informasi adalah kemudahan transaksi banking yang memudahkan transaksi bisnis
seperti narkotika, dan barang-barang selundupan lainnya (blackmarket), anak-anak dibawah umur dapat mengakses berbagai situs
orang dewasa seperti pornografi dan lain-lain, serta memudahkan plagiatisme
dikalangan pelajar atau meniru hasil karya orang lain.
Fungsi lain Warnet
Untuk
mengakses informasi melalui internet, masyarakat memiliki banyak kemudahan.
Kemudahan yang dimaksud adalah, masyarakat awam dapat mendapat informasi atau
mengakses informasi di internet melalui handphone, komputer ( bagi yang
memiliki) , atau masyarakat dapat dating ke ‘Warnet’ atau Warung Internet,
cukup membayar kurang lebih Rp3000,00 per jam nya, masyarakat luas sudah dapat
mengakses internet. Dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa bebas untuk
datang ke warnet. Kurangnya pengawasan dari pihak orang tua dan pengelola,
membuat anak-anak dibawah umur dapat dengan bebas mengakses situs-situs yang
belum seharusnya mereka lihat. Harganya relative murah, sehingga dari berbagai
kalangan dapat dating dan mengakses internet dengan bebas di warnet. Namun sehubungan
dengan dirancangnya UU baru mengenai Pornografi dan Pornoaksi, situs-situs yang
berbau Pornografi dan Pornoaksi pun mulai diblokir dan tidak dapat diakses
secara bebas oleh masyarakat.
Fungsi
warnet selain untuk tempat memperoleh informasi atau tempat mengakses internet
juga bisa sebagi tempat ‘berpacaran’ bagi para anak remaja. Banyak
warnet-warnet ‘nakal’ yang mendesain tempatnya seperti kamar-kamar atau
ruang-ruang tertutup sehingga membuat anak-anak remaja tertarik untuk main
kesana. Tidak sedikit anak remaja yang datang bersama dengan pacarnya atau
pasangannya. Dengan harga yang relative terjangkau dikalangan remaja, membuat
warnet-warnet seperti ini laris dan selalu ramai didatangi remaja.
Anak-anak
remaja yang datang dengan pasangannya, melalukan hal-hal yang tidak seharusnya
ia lakukan. Tidak sedikit disana yang berpelukan, berciuman dan bahkan sampai
melakukan hubungan suami istri dengan orang yang belum ‘muhrim’nya, anak-anak
remaja saat ini tidak berpikir panjang lebar terlebih dahulu sbelum bertindak.
Seharusnya mereka savoir pour prevoir atau
mengetahui sebelum bertindak. Maksudnya disini adalah, mengetahui dahulu apa
dampak yang akan terjadi nantinya dikemudian hari apabila ia melakukan hal
seperti itu. Mereka seharusnya berpikir terlebih dahulu apa yang akan terjadi
dikemudian hari. Dalam hal ini yang paling dirugikan adalah pihak perempuan,
apabila ia sampai hamil diluar nikah dan pihak laki-laki tidak ingin
bertanggung jawab karena alasan saat melakukan itu atas dasar suka sama suka. Apa yang dapat dilakukan
oleh pihak perempuan? Merekalah yang akan menanggung malu, dan ini akan menjadi
aib bagi keluarganya.
Apabila dianalisis menggunakan teori evolusi
masyarakat, Comte, yaitu tentang factor yang mempengaruhi evolusi masyarakat,
fenomena tersebut masuk dalam factor populasi. Mengapa demikian? Karena
masa-masa remaja adalah masa-masa meniru dan bertindak seperti yang dijelaskan
dalam tahap sosialisasi menurut George Herbet Mead.
Adapun
tahap-tahap sosialisasi sebagai berikut, Preparatory Stage, adalah persiapan
anak mengenal dunia social disekitarnya. Play Stage, anak kecil mulai belajar
mengambil peran orang yang berada disekitarnya atau sudah mampu meniru secara
sempurna. Pada tahap ini anak sudah mengetahui jati dirinya. Game Stage,
seorang anak tidak hanya telah mengetahui peran yang harus dijalankannya, dan
telah mengerti apa yang harus dijalankan oleh orang lain. Dan tahap Generalized
Other mampu mengambil peran yang dijalankan orang dalam masyarakat atau anak
sudah memasuki fase dewasa dan sudah mampu menempatkan diri pada posisi orang
lain maupun pada posisi masyarakat luas. Populasi yang dimaksud disini adalah
lingkungan sekitarnya. Anak remaja, lingkungan sekitarnya dalah teman
sebayanya. Apabila ia bermain dilingkungan baik-baik, maka ia akan tertular baik,
namun apabila ia bermain dengan orang yang tidak baik maka mereka akan meniru
kebiasaan yang tidak baik. Seperti istilah, apabila
bermain dengan penjual parfum, maka akan terkena wanginya, namun apabila
bermain dengan tukang sampah, maka akan tekena bau busuknya.
Peran Keluarga dalam Perkembangan
Remaja
Kenakalan-kenakalan yang terjadi
pada anak remaja, tidak bisa 100 % dilimpahkan kesalahan terhadap individu
mereka saja, melainkan kita harus memperhatikan atau melihat factor-faktor
lainnya yang mungkin bersumbangsih dalam pembentukan karakter atau pribadi anak
tersebut. Seperti kita harus melihat latar belakang keluarganya. Biasanya
anak-anak yang nakal diluaran sana karena kurangnya perhatian atau kasih sayang
orang tuanya dirumah. Karena kurangnya perhatian dari keluarganya dirumah, maka
ia mencari perhatian lain diluar rumahnya, dengan cara mencuri, tawuran, seks
bebas, bahkan sampai pesta narkoba.
Namun tidak sedikit pula anak-anak yang mendapat perhatian dari orang tuanya
dirumah yang justru melakukan hal-hal negative diluar sana. Ini karena orang
tuanya dirumah hanya bisa ber rasionalitas
teoritis saja kepada anaknya tanpa bisa mencontohkan hal-hal tersebut.
Gertrude
Jaeger (1977) mengemukakan bahwa peran agen sosialisasi, terutama orang tua
sangat penting. Sang anak khususnya pada masyarakakat modern sangat terhantung
pada orang tua dan apasaja yang terjadi antara orang tua dan anak pada tahap
ini jarang diketahui orang luar.
Ada
dua macam proses sosialisasi dalam keluarga, yang pertama adalah sosialisasi
represif. Yaitu mengutamakan kepatuhan anak kepada orang tua, menghukum apabila
anak berprilaku keliru, hukuman dan imbalan berupa materi, dan menekankan
komunikasi searah berupa perintah. Yang kedua adalah sosialisasi
partisipatoris, yaitu mengutamakan adanya partisipasi dari anak. Anak diberi
kebebasan dan akan mendapat imbalan bila berbuat baik dan akan dihukum apabila
berbuat salah. Interaksi dan komunikasi bersifat lisan, dan hukuman serta
imbalan bersifat simbolis.
Misalnya,
orang tua yang menyuruh anaknya untuk solat lima waktu, namun mereka tidak
mencontohkan hal yang demikian kepada anaknya. Seharusnya para orang tua
melakukan rasionalitas subtantif, yaitu menyusun tindakan berdasarkan
kluster-kluster nilai yang ada. Orang tua seharusnya menyusun aturan-aturan
dalam keluarga sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya dan yang berlaku pada
masyarakat luas. Anak remaja yang melakukan hal-hal menyimpang atau berpacaran
sampai tidak kenal batas aturan dan tawuran serta mencuri itu merupakan suatu
tindakan social, karena memiliki makna dan motif yaitu ingin keberadaannya
dilihat dan dihargai oleh sekelilingnya.
Orang
tua juga seharusnya memahami kondisi kejiwaan anaknya seperti apa, sesuai
dengan teori metodologi analisis social yaitu Verstehen. Orang tua yang
diibaratkan sebagai seorang sosiolog harus dapat memahami apa yang dilakukan
oleh pelaku (dalam kasus ini: anaknya) dengan membongkar motif atau makna dari
tindakan social ini. Hal ini mengacu pada perolehan empati dalam memahami
tindakan social manusia yang subjektif dan bermakna. Maksudnya adalah orang tua
harus memahami mengapa anaknya bertindak demikian, apa yang membuat anaknya
melakukan hal demikian, dan harus memahami dari lingkungan sekitarnya atau
lingkungan bermain atau teman sebayanya. Dan orang tua yang memiliki tipe ideal
berupa otoritas-kharismatik juga seharusnya dapan memanfaatkan fungsinya
tersebut guna mengatur dan mendidik anak-anaknya menggunakan alat yaitu
kewibawaannya yang dihormati dan dihargai oleh anaknya tersebut.
Peran Lingkungan dalam Perkembangan
Remaja
Lingkungan
sekitar dan teman bermain atau teman sebaya berpengaruh besar dalam
perkembangan kepribadian anak remaja pada masa kini. Orang tua harus
membentengi pergaulan anak-anaknya dari pergaulan yang tidak baik, membentengi
disini buka bermaksud untuk membatasi secara keseluruhan. Melainkan menyaring
atau memfilter pergaulan anak-anaknya dari hal-hal negative. Orang tua harus
mengetahui bagaimana pergaulan anak-anak mereka ketika di sekolah, ketika
dengan teman-teman bermain, teman-teman kursus atau les atau ekstrakurikuler,
dan yang tak kalah penting mengetahui perkembangan sejauh apa mereka mengakses
situs-situs internet. Orang tua harus mendapingi sesekali ketika anaknya
mengakses situs jejaring social seperti Facebook, Twitter dan lain-lain, agar
sedikit banyaknya orang tua mengetahui bagaimana dan siapa teman-teman anaknya
di dunia maya.
Dalam
teori dialektika Marx, ada yang dinamakan Socrates, yaitu metode untuk
memperoleh data melalui cara berdialog, mempertanyakan dan kemudian membantah
guena memperoleh pengetahuan. Orang tua dapat bertanya kepada anak, “siapa
temennya di dunia maya itu? Dari mana ia mengenalnya? Sejauh apa hubungan
pertemanan mereka?”. Dan apabila anak memberi jawaban yang agaknya
mencurigakan, orang tua sudah selayaknya membantah dan mempertanyakan ulang
kepada anaknya sampai anaknya tersebut memberi jawaban yang sejujur-jujurnya.
Setelah itu, orang tua harus memberikan wejangan-wejangan
atau nasehat kepada anak, namun nasehat tersebut harus yang mudah dipahami oleh
sang anak. Jangan sampai masuk telinga
kanan keluar telinga kiri. Ini hanya menjadi sesuatu yang sia-sia.
Seperti
yang diungkapkan dalam teori Marx, yaitu masyarakat merupakan entitas materi
dari formasi social dalam metode produksi yang khas. Teori ini dalam bahasa
sederhananya adalah masyarakat merupakan kualitas materi dari formasi social
dalam aktivitas kehidupan yang khas. Maksud dari teori tersebut adalah,
masyarakat merupakan hasil dari kualitas individu-individu yang ada di
dalamnya. Apabila individu-individu yang ada di dalam masyarakat itu baik, maka
kondisi social masyarakat itu pun akan baik. Begitu pula sebaliknya. Dan
menurut Marx, individu dipengaruhi oleh masyarakat, karena individu merupakan
bagian dari masyarakat.
Seorang
tokoh sosiologi modern, Talcott Parsons (1968), merumuskan criteria bagi adanya
masyarakat. Menurutnya, masyarakat ialah suatu system social yang swasembada,
melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara reproduksi
biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.
Marion
Levy (lihat Inkeles, 1965) mengemukakan empat criteria yang perlu dipenuhi agar
suatu kelompok dapat disebut masyarakat, yaitu kemampuan berthan melebihi masa
hidup individu, merekrut anggota baru dengan cara reproduksi, kesetiaan pada
suatu “system tindakan utama bersama”, dan adanya system tindakan yang bersifat
swasembada.
Factor Penyebab Kenakalan Remaja
Factor-faktor
yang dapat menyebabkan kenakalan remaja adalah Teman Sebaya. Kenakalan remaja
sebagian besar diakibatkan oleh pengaruh temen sebaya atau teman bermainnya.
Ank remaja sebagian besar lebih percaya kepada temannya dibandingkan dengan
keluarga atau orang tua mereka. Mereka lebih senang bercerita kepada temannya
karena dianggap lebih mampu memahami kondisi perasaan mereka karena mereka
seumuran. Tapi tidak sedikit temen yang memanfaatkan sesusahan temannya dengan
cara menjerumuskan dalam hal-hal yang negative. Misalnya ada anak yang
bercerita kepada temannya kalau dia sedang mengalami masalah keluarga, orang
tuanya bercerai, temannya memanfaatkan ini untuk mengenalkan anak itu dengan
benda haram seperti narkoba dan minuman keras. Anak yang sedang dalam kondisi
terpuruk dan frustasi tidak dapat berpikir panjang lebar dan langsung saja
menerima pemberian dari temannya itu.
Selain
karena teman sebaya,
kenalan remaja pun bisa terjadi karena keterasingannya dari lingkungan
sekitarnya atau Alienasi (keterasingan diri manusia). Menurut Marx, alienasi
bukan hanya berarti bahwa manusia tidak mengalami dirinya sebagai pelaku ketika
ia menguasai dunianya, tetapi juga ia asing dalam dirinya sebagai manusia lain.
Yang dimaksud disini adalah keadaan dimana seseorang merasa bahwa dirinya sudah
terpisah dengan lingkungan sekitarnya. Apabila seseorang sudah merasa
teralienasi dari lingkungan sekitarnya, ia cenderung frustasi dan biasanya akan
melakukan bunuh diri (suicide). Bunuh diri yang diakibatkan oleh adanya
keterasingan dalam masyarakat adalah jenis bunuh diri Fatalistic. Fatalistic
sendiri adalah tipe bunuh yang diakibatkan oleh hilangnya kendali diri dan
adanya perasaan pasrah terhadap hidupnya, kemudian frustasi dan akhirnya bunuh
diri. Bunuh diri sendiri bermakna yaitu berusaha memusnahkan diri sendiri
dikarenakan adanya sesuatu hal yang dirasa sudah tidak dapat diatasi lagi.
Teori
Marx mengenai Alienasi dan pengasingan diri dibalikkan oleh Feuerbach. Mengutip
Feuerbach:
Feuerbach
lebih konsisten daripada Marx dalam mempertahankan bahwa dunia kesadaran
manusia serta ide-ide semata-mata cerminan kekuatan materil, suatu posisi yang
seperti dimiliki Marx, bertentangan dengan filsafat Hegel. Menurutnya filsafat
Hegeltidak lain daripada suatu bentuk abstrak dan filosofis dari pemikiran
teologis (Feuerbach: dalam Teori Sosiologi Klasik dan Modern, hal: 140-141) .
Factor
lain penyebab kenalan remaja adalah orang tua. Mengapa demikian? Tidak sedikit
keluarga yang memberi kebebasan kepada anaknya dalam bergaul, kurangnya
pengawasan dari orang tua dan kurangnya pemantauan dari orang tua, membuat anak
merasa kurang mendapat perhatian. Kurangnya
penerapan nilai-nilai dan aturan-aturan dalam keluarga, membuat anak merasa
bebas melakukan apa saja yang ingin ia lakukan tanpa mempedulikan akibatnya.
Ini semuakarena proses sosialisasi yang tidak sempurna yang diberikan oleh
keluarga.
Penyebab
lainnya adalah factor social dan ekonomi. Yang dimaksud disini adalah,
anak-anak kurang mendapatkan tempat pada lingkungan sekitarnya. Misalnya karena
factor ekonomi, seseorang anak yang berasal dari keluarga dengan keadaan
ekonomi menengah kebawah yang tidak bisa ikut bergaul dengan anak yang berlatar
belakang ekonomi mengengah keatas. Ada jurang pemisah diantara mereka. Ini
membuat anak-anak merasa minder dan
tidak pd dengan lingkungan
sekitarnya. Namun, apabila anak itu mau berusaha untuk mengubah nasib
keluarganya, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti mereka akan setara
taraf kehidupannya dengan temannya itu.
Seperti
teori Marx yaitu Materialisme Dialektis, pada asumsi dasar yang ketiga yaitu
kenyataan objektif adalah penentu terakhir terhadap ide. Maksudnya adalah,
kenyataan yang akan terjadi pada masyarakat adalah tergantung dari ide yang
tertuang. Kita ibaratkan saja ide itu merupakan usaha atau daya juang kita
untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, maka kenyataan objektifnya adalah
hasil dari kerja keras itu. Bisa berupa sebuah keberhasilan atau sebuah
kegagalan. Semua itu tergantung dengan apa yang sudah berhasil kita lakukan.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Kartini, Kartono. (1992). Patologi
Sosial II : Kenakalan Remaja. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada
·
Santoso, Topo dan Eva Achajani. (2003).
Kriminologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada
·
Sunarto, Kamanto. (2004). Pengantar
Sosiologi : Tatanan Sosial dan Pengendalian Sosial. Jakarta: Lembaga Penerbit
FE UI, hal: 54
Kartini, Kartono. (1992). Patologi
Sosial II : Kenakalan Remaja. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada
Santoso, Topo dan Eva Achajani.
(2003). Kriminologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada