Kamis, 06 Juni 2013

Fenomena Kenakalan Remaja
Oleh : Ruli Khoiriyah Nurhasanah

Pendahuluan
Di era yang serba modern ini, memudahkan masyarakat dalam memperoleh berbagai macam informasi baik dari media cetak maupun media elektronik. Kemudahan akses yang didapatkan oleh anak remaja masa kini, memberika dampak positif dan juga dampak negative dalam pergaulannya sehari-hari.  Semakin terbuka luasnya ruang untuk berkomunikasi jarak jauh seperti dengan menggunakan Handphone, Internet dan lain-lain, tidak jarang dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk hal-hal yang tidak baik. Contohnya saja penculikan remaja-remaja putri  oleh temannya yang ia kenal melalui jejaring social Facebook, Twitter, dan lain sebagainya. Mereka yang belum mengehatui ataupun belum paham bahwa kejahatan selalu mengintai dan berada disekeliling mereka, tidak merasa khawatir ataupun curiga terhadap orang yang baru ia kenal. Sifat anak remaja yang selalu ingin tahu dan selalu ingin mencoba hal yang baru juga lah yang menjadi salah satu penyebab munculnya kejahatan-kejahatan terhadap remaja. Memang, rasa ingin tahu merupakan sifat dasar dari setiap manusia. Seperti yang dikenal remaja masa kini dengan istilah KEPO (Knowing Every Particular Object).
Dampak positif dari perkembangan teknologi dan informasi bagi kalangan remaja adalah sebagai sarana yang dapat mempermudah mengakses informasi yang kita perlukan, mempercepat penyampaian informasi (via email), mempermudah untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugas, mempermudah komunikasi dan tidak harus memikirkan halangan waktu dan tempat, dan masih banyak lagi kegunaan lainnya. Namun, apabila ada dampak positif pasti juga memiliki dampak negative. Dampak negative dari perkembangan teknologi dan informasi adalah kemudahan transaksi banking yang memudahkan transaksi bisnis seperti narkotika, dan barang-barang selundupan lainnya (blackmarket), anak-anak dibawah umur dapat mengakses berbagai situs orang dewasa seperti pornografi dan lain-lain, serta memudahkan plagiatisme dikalangan pelajar atau meniru hasil karya orang lain.
Fungsi lain Warnet
Untuk mengakses informasi melalui internet, masyarakat memiliki banyak kemudahan. Kemudahan yang dimaksud adalah, masyarakat awam dapat mendapat informasi atau mengakses informasi di internet melalui handphone, komputer ( bagi yang memiliki) , atau masyarakat dapat dating ke ‘Warnet’ atau Warung Internet, cukup membayar kurang lebih Rp3000,00 per jam nya, masyarakat luas sudah dapat mengakses internet. Dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa bebas untuk datang ke warnet. Kurangnya pengawasan dari pihak orang tua dan pengelola, membuat anak-anak dibawah umur dapat dengan bebas mengakses situs-situs yang belum seharusnya mereka lihat. Harganya relative murah, sehingga dari berbagai kalangan dapat dating dan mengakses internet dengan bebas di warnet. Namun sehubungan dengan dirancangnya UU baru mengenai Pornografi dan Pornoaksi, situs-situs yang berbau Pornografi dan Pornoaksi pun mulai diblokir dan tidak dapat diakses secara bebas oleh masyarakat.
Fungsi warnet selain untuk tempat memperoleh informasi atau tempat mengakses internet juga bisa sebagi tempat ‘berpacaran’ bagi para anak remaja. Banyak warnet-warnet ‘nakal’ yang mendesain tempatnya seperti kamar-kamar atau ruang-ruang tertutup sehingga membuat anak-anak remaja tertarik untuk main kesana. Tidak sedikit anak remaja yang datang bersama dengan pacarnya atau pasangannya. Dengan harga yang relative terjangkau dikalangan remaja, membuat warnet-warnet seperti ini laris dan selalu ramai didatangi remaja.
Anak-anak remaja yang datang dengan pasangannya, melalukan hal-hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Tidak sedikit disana yang berpelukan, berciuman dan bahkan sampai melakukan hubungan suami istri dengan orang yang belum ‘muhrim’nya, anak-anak remaja saat ini tidak berpikir panjang lebar terlebih dahulu sbelum bertindak. Seharusnya mereka savoir pour prevoir atau mengetahui sebelum bertindak. Maksudnya disini adalah, mengetahui dahulu apa dampak yang akan terjadi nantinya dikemudian hari apabila ia melakukan hal seperti itu. Mereka seharusnya berpikir terlebih dahulu apa yang akan terjadi dikemudian hari. Dalam hal ini yang paling dirugikan adalah pihak perempuan, apabila ia sampai hamil diluar nikah dan pihak laki-laki tidak ingin bertanggung jawab karena alasan saat melakukan itu atas dasar suka sama suka. Apa yang dapat dilakukan oleh pihak perempuan? Merekalah yang akan menanggung malu, dan ini akan menjadi aib bagi keluarganya.
 Apabila dianalisis menggunakan teori evolusi masyarakat, Comte, yaitu tentang factor yang mempengaruhi evolusi masyarakat, fenomena tersebut masuk dalam factor populasi. Mengapa demikian? Karena masa-masa remaja adalah masa-masa meniru dan bertindak seperti yang dijelaskan dalam tahap sosialisasi menurut George Herbet Mead[1].
Adapun tahap-tahap sosialisasi sebagai berikut, Preparatory Stage, adalah persiapan anak mengenal dunia social disekitarnya. Play Stage, anak kecil mulai belajar mengambil peran orang yang berada disekitarnya atau sudah mampu meniru secara sempurna. Pada tahap ini anak sudah mengetahui jati dirinya. Game Stage, seorang anak tidak hanya telah mengetahui peran yang harus dijalankannya, dan telah mengerti apa yang harus dijalankan oleh orang lain. Dan tahap Generalized Other mampu mengambil peran yang dijalankan orang dalam masyarakat atau anak sudah memasuki fase dewasa dan sudah mampu menempatkan diri pada posisi orang lain maupun pada posisi masyarakat luas. Populasi yang dimaksud disini adalah lingkungan sekitarnya. Anak remaja, lingkungan sekitarnya dalah teman sebayanya. Apabila ia bermain dilingkungan baik-baik, maka ia akan tertular baik, namun apabila ia bermain dengan orang yang tidak baik maka mereka akan meniru kebiasaan yang tidak baik. Seperti istilah, apabila bermain dengan penjual parfum, maka akan terkena wanginya, namun apabila bermain dengan tukang sampah, maka akan tekena bau busuknya.
Peran Keluarga dalam Perkembangan Remaja
            Kenakalan-kenakalan yang terjadi pada anak remaja, tidak bisa 100 % dilimpahkan kesalahan terhadap individu mereka saja, melainkan kita harus memperhatikan atau melihat factor-faktor lainnya yang mungkin bersumbangsih dalam pembentukan karakter atau pribadi anak tersebut. Seperti kita harus melihat latar belakang keluarganya. Biasanya anak-anak yang nakal diluaran sana karena kurangnya perhatian atau kasih sayang orang tuanya dirumah. Karena kurangnya perhatian dari keluarganya dirumah, maka ia mencari perhatian lain diluar rumahnya, dengan cara mencuri, tawuran, seks bebas,  bahkan sampai pesta narkoba. Namun tidak sedikit pula anak-anak yang mendapat perhatian dari orang tuanya dirumah yang justru melakukan hal-hal negative diluar sana. Ini karena orang tuanya dirumah hanya bisa ber rasionalitas teoritis saja kepada anaknya tanpa bisa mencontohkan hal-hal tersebut.
Gertrude Jaeger (1977) mengemukakan bahwa peran agen sosialisasi, terutama orang tua sangat penting. Sang anak khususnya pada masyarakakat modern sangat terhantung pada orang tua dan apasaja yang terjadi antara orang tua dan anak pada tahap ini jarang diketahui orang luar. [2]
Ada dua macam proses sosialisasi dalam keluarga, yang pertama adalah sosialisasi represif. Yaitu mengutamakan kepatuhan anak kepada orang tua, menghukum apabila anak berprilaku keliru, hukuman dan imbalan berupa materi, dan menekankan komunikasi searah berupa perintah. Yang kedua adalah sosialisasi partisipatoris, yaitu mengutamakan adanya partisipasi dari anak. Anak diberi kebebasan dan akan mendapat imbalan bila berbuat baik dan akan dihukum apabila berbuat salah. Interaksi dan komunikasi bersifat lisan, dan hukuman serta imbalan bersifat simbolis.[3]
Misalnya, orang tua yang menyuruh anaknya untuk solat lima waktu, namun mereka tidak mencontohkan hal yang demikian kepada anaknya. Seharusnya para orang tua melakukan rasionalitas subtantif, yaitu menyusun tindakan berdasarkan kluster-kluster nilai yang ada. Orang tua seharusnya menyusun aturan-aturan dalam keluarga sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya dan yang berlaku pada masyarakat luas. Anak remaja yang melakukan hal-hal menyimpang atau berpacaran sampai tidak kenal batas aturan dan tawuran serta mencuri itu merupakan suatu tindakan social, karena memiliki makna dan motif yaitu ingin keberadaannya dilihat dan dihargai oleh sekelilingnya.
Orang tua juga seharusnya memahami kondisi kejiwaan anaknya seperti apa, sesuai dengan teori metodologi analisis social yaitu Verstehen. Orang tua yang diibaratkan sebagai seorang sosiolog harus dapat memahami apa yang dilakukan oleh pelaku (dalam kasus ini: anaknya) dengan membongkar motif atau makna dari tindakan social ini. Hal ini mengacu pada perolehan empati dalam memahami tindakan social manusia yang subjektif dan bermakna. Maksudnya adalah orang tua harus memahami mengapa anaknya bertindak demikian, apa yang membuat anaknya melakukan hal demikian, dan harus memahami dari lingkungan sekitarnya atau lingkungan bermain atau teman sebayanya. Dan orang tua yang memiliki tipe ideal berupa otoritas-kharismatik juga seharusnya dapan memanfaatkan fungsinya tersebut guna mengatur dan mendidik anak-anaknya menggunakan alat yaitu kewibawaannya yang dihormati dan dihargai oleh anaknya tersebut.
Peran Lingkungan dalam Perkembangan Remaja
Lingkungan sekitar dan teman bermain atau teman sebaya berpengaruh besar dalam perkembangan kepribadian anak remaja pada masa kini. Orang tua harus membentengi pergaulan anak-anaknya dari pergaulan yang tidak baik, membentengi disini buka bermaksud untuk membatasi secara keseluruhan. Melainkan menyaring atau memfilter pergaulan anak-anaknya dari hal-hal negative. Orang tua harus mengetahui bagaimana pergaulan anak-anak mereka ketika di sekolah, ketika dengan teman-teman bermain, teman-teman kursus atau les atau ekstrakurikuler, dan yang tak kalah penting mengetahui perkembangan sejauh apa mereka mengakses situs-situs internet. Orang tua harus mendapingi sesekali ketika anaknya mengakses situs jejaring social seperti Facebook, Twitter dan lain-lain, agar sedikit banyaknya orang tua mengetahui bagaimana dan siapa teman-teman anaknya di dunia maya. 
Dalam teori dialektika Marx, ada yang dinamakan Socrates, yaitu metode untuk memperoleh data melalui cara berdialog, mempertanyakan dan kemudian membantah guena memperoleh pengetahuan. Orang tua dapat bertanya kepada anak, “siapa temennya di dunia maya itu? Dari mana ia mengenalnya? Sejauh apa hubungan pertemanan mereka?”. Dan apabila anak memberi jawaban yang agaknya mencurigakan, orang tua sudah selayaknya membantah dan mempertanyakan ulang kepada anaknya sampai anaknya tersebut memberi jawaban yang sejujur-jujurnya. Setelah itu, orang tua harus memberikan wejangan-wejangan atau nasehat kepada anak, namun nasehat tersebut harus yang mudah dipahami oleh sang anak. Jangan sampai masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ini hanya menjadi sesuatu yang sia-sia.
Seperti yang diungkapkan dalam teori Marx, yaitu masyarakat merupakan entitas materi dari formasi social dalam metode produksi yang khas. Teori ini dalam bahasa sederhananya adalah masyarakat merupakan kualitas materi dari formasi social dalam aktivitas kehidupan yang khas. Maksud dari teori tersebut adalah, masyarakat merupakan hasil dari kualitas individu-individu yang ada di dalamnya. Apabila individu-individu yang ada di dalam masyarakat itu baik, maka kondisi social masyarakat itu pun akan baik. Begitu pula sebaliknya. Dan menurut Marx, individu dipengaruhi oleh masyarakat, karena individu merupakan bagian dari masyarakat.
Seorang tokoh sosiologi modern, Talcott Parsons (1968), merumuskan criteria bagi adanya masyarakat. Menurutnya, masyarakat ialah suatu system social yang swasembada, melebihi masa hidup individu normal, dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya. [4]
Marion Levy (lihat Inkeles, 1965) mengemukakan empat criteria yang perlu dipenuhi agar suatu kelompok dapat disebut masyarakat, yaitu kemampuan berthan melebihi masa hidup individu, merekrut anggota baru dengan cara reproduksi, kesetiaan pada suatu “system tindakan utama bersama”, dan adanya system tindakan yang bersifat swasembada.[5]
Factor Penyebab Kenakalan Remaja
Factor-faktor yang dapat menyebabkan kenakalan remaja adalah Teman Sebaya. Kenakalan remaja sebagian besar diakibatkan oleh pengaruh temen sebaya atau teman bermainnya. Ank remaja sebagian besar lebih percaya kepada temannya dibandingkan dengan keluarga atau orang tua mereka. Mereka lebih senang bercerita kepada temannya karena dianggap lebih mampu memahami kondisi perasaan mereka karena mereka seumuran. Tapi tidak sedikit temen yang memanfaatkan sesusahan temannya dengan cara menjerumuskan dalam hal-hal yang negative. Misalnya ada anak yang bercerita kepada temannya kalau dia sedang mengalami masalah keluarga, orang tuanya bercerai, temannya memanfaatkan ini untuk mengenalkan anak itu dengan benda haram seperti narkoba dan minuman keras. Anak yang sedang dalam kondisi terpuruk dan frustasi tidak dapat berpikir panjang lebar dan langsung saja menerima pemberian dari temannya itu.[6]
Selain karena teman sebaya[7], kenalan remaja pun bisa terjadi karena keterasingannya dari lingkungan sekitarnya atau Alienasi (keterasingan diri manusia). Menurut Marx, alienasi bukan hanya berarti bahwa manusia tidak mengalami dirinya sebagai pelaku ketika ia menguasai dunianya, tetapi juga ia asing dalam dirinya sebagai manusia lain. Yang dimaksud disini adalah keadaan dimana seseorang merasa bahwa dirinya sudah terpisah dengan lingkungan sekitarnya. Apabila seseorang sudah merasa teralienasi dari lingkungan sekitarnya, ia cenderung frustasi dan biasanya akan melakukan bunuh diri (suicide). Bunuh diri yang diakibatkan oleh adanya keterasingan dalam masyarakat adalah jenis bunuh diri Fatalistic. Fatalistic sendiri adalah tipe bunuh yang diakibatkan oleh hilangnya kendali diri dan adanya perasaan pasrah terhadap hidupnya, kemudian frustasi dan akhirnya bunuh diri. Bunuh diri sendiri bermakna yaitu berusaha memusnahkan diri sendiri dikarenakan adanya sesuatu hal yang dirasa sudah tidak dapat diatasi lagi.
Teori Marx mengenai Alienasi dan pengasingan diri dibalikkan oleh Feuerbach. Mengutip Feuerbach:
Feuerbach lebih konsisten daripada Marx dalam mempertahankan bahwa dunia kesadaran manusia serta ide-ide semata-mata cerminan kekuatan materil, suatu posisi yang seperti dimiliki Marx, bertentangan dengan filsafat Hegel. Menurutnya filsafat Hegeltidak lain daripada suatu bentuk abstrak dan filosofis dari pemikiran teologis (Feuerbach: dalam Teori Sosiologi Klasik dan Modern, hal: 140-141) [8].
Factor lain penyebab kenalan remaja adalah orang tua. Mengapa demikian? Tidak sedikit keluarga yang memberi kebebasan kepada anaknya dalam bergaul, kurangnya pengawasan dari orang tua dan kurangnya pemantauan dari orang tua, membuat anak merasa kurang mendapat perhatian.  Kurangnya penerapan nilai-nilai dan aturan-aturan dalam keluarga, membuat anak merasa bebas melakukan apa saja yang ingin ia lakukan tanpa mempedulikan akibatnya. Ini semuakarena proses sosialisasi yang tidak sempurna yang diberikan oleh keluarga.
Penyebab lainnya adalah factor social dan ekonomi. Yang dimaksud disini adalah, anak-anak kurang mendapatkan tempat pada lingkungan sekitarnya. Misalnya karena factor ekonomi, seseorang anak yang berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi menengah kebawah yang tidak bisa ikut bergaul dengan anak yang berlatar belakang ekonomi mengengah keatas. Ada jurang pemisah diantara mereka. Ini membuat anak-anak merasa minder dan tidak pd dengan lingkungan sekitarnya. Namun, apabila anak itu mau berusaha untuk mengubah nasib keluarganya, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti mereka akan setara taraf kehidupannya dengan temannya itu.
Seperti teori Marx yaitu Materialisme Dialektis, pada asumsi dasar yang ketiga yaitu kenyataan objektif adalah penentu terakhir terhadap ide. Maksudnya adalah, kenyataan yang akan terjadi pada masyarakat adalah tergantung dari ide yang tertuang. Kita ibaratkan saja ide itu merupakan usaha atau daya juang kita untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, maka kenyataan objektifnya adalah hasil dari kerja keras itu. Bisa berupa sebuah keberhasilan atau sebuah kegagalan. Semua itu tergantung dengan apa yang sudah berhasil kita lakukan.
















DAFTAR PUSTAKA
·         Kartini, Kartono. (1992). Patologi Sosial II : Kenakalan Remaja. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada
·         Santoso, Topo dan Eva Achajani. (2003). Kriminologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada
·         Johnson, Doyle Paul. (1986). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia
·         Sunarto, Kamanto. (2004). Pengantar Sosiologi : Tatanan Sosial dan Pengendalian Sosial. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, hal: 54
·         Herawati, Intiyani Mei. (2012). Bedah Tuntas Kisi-kisi Soal Ujian Nasional Sosiologi. Yogyakarta: Quantum Ilmu




[1] Sunarto, Kamanto. (2004) . Pengantar Sosiologi: Sosialisasi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI hal: 22
[2] Gertrude Jaeger: dalam Pengantar Sosiologi, hal: 24
[3] Herawati, Intiyani Mei. (2012). Bedah Tuntas Kisi-kisi Soal Ujian Nasional Sosiologi. Yogyakarta: Quantum Ilmu
[4] Sunarto, Kamanto. (2004). Pengantar Sosiologi : Tatanan Sosial dan Pengendalian Sosial. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, hal: 54
[5]  ibid
[6] Kartini, Kartono. (1992). Patologi Sosial II : Kenakalan Remaja. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada
[7] Santoso, Topo dan Eva Achajani. (2003). Kriminologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Husada
[8] Johnson, Doyle Paul. (1986). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia